Friday, October 24, 2008
Pencerahan bukan untuk Orang Manja
Pencerahan bukan untuk orang manja
Pencerahan bukan untuk orang yang manja.
Tarbiyyah bukan untuk orang yang malas.
Da’wah bukan untuk orang yang takut nak bergerak dan mencabar diri.
Tarbiyyah bukan untuk orang yang cepat bosan, lari, lompat-lompat, sekejap down-sekejap up, cepat terasa.
Tarbiyyah bukan bagi orang yang memilih program untuk dia ikuti-yang senang dan mudah join, yang penat, bersusah payah elak.
Bukan untuk orang yang mencari tarbiyyah hanya bila terasa diuji oleh tuhan. Kalau tak, batang hidung pun tak Nampak.
Bukan bagi yang meletakkan da’wah hanya untuk mencari calon akhawat sebagai sang isteri,
-yang join hanya untuk meminta tolong teman-teman pencerahan bila dia dalam kesusahan.
Tapi kesenangan dan kelebihan yang dia dapat, tak share pun dengan orang lain.
-yang cepat mengalah,
-yang meletakkan mabit, qiamullail, daurah, dan tathqif dalam diari hanya selepas ditolak dengan semua agenda dan upacara-upacara ‘penting’ yang lain.
-yang hanya pandai cakap (dan menulis), tapi amal kosong
-yang hanya tahu compare jamaah itu dengan jamaah ini, yang boleh jarah wa ta’dil harakh ini dan itu.
Da’wah bukan untuk orang yang ikut liqa hanya kerana nak disebut sebagai ahli dalam harakah ini dan itu, jamaah ini dan itu.
Da’wah bukan untuk orang yang tak boleh diberi tugasan last minute.
Da’wah bukanlah untuk orang yang tak nak keluarkan duit, infaq di jalan Allah.
Da’wah bukan untuk orang yang tak boleh sesekali tidur lewat, terpaksa berjalan jauh.
Da’wah bukan bagi orang yang kalau ada program untuk ikut terlibat, mesti naik motokar besar dan mewah, yang air-cond, dan laju. Yang tak nak naik bas, public transport, dan yang kena berpeluh-peluh.
Tarbiyah bukan untuk orang yang kena contact dan info dia setiap masa tentang perkembangan terkini sedangkan dia kena macam boss, hanya tunggu information.
Pencerahan bukan bagi mereka yang hanya nak berkawan dengan orang berduit dan berharta, yang hidup mewah, dan mengelak berkawan dengan orang susah, miskin, dan pakai comot.
Da’wah bukanlah untuk orang yang setiap masa dan ketika, kerja nak beri alasan ini dan itu. Penat, mengantuk, susah, banyak kerja, keluarga tak bagi keluar.
Tarbiyyah bukanlah segala-galanya. Tapi segala-galanya bermula dengan tarbiyyah.
Tanpa anda, orang yang sering beralasan ini, da’wah akan terus berjalan.
Islam akan tetap berjaya. Ummah akan tetap terpelihara.
Cuma tanpa pencerahan,
Tanpa tarbiyyah,
Tanpa da’wah,
Belum tentu kita akan Berjaya di mahsyar nanti.
Tak mengapa. Teruskan hidup anda seperti biasa. Da’wah tak memerlukan anda. Tiada siapa pun yang rugi tanpa kehadiran anda. Berbahagialah seadanya.
Wednesday, March 19, 2008
Mereka Yang Tiada
Di jalan ini ku hadapi duka dan sedu sepi
Bersama teman teman harungi perjuangan
Biarpun kekurangannya ada, Takkan ku gundah
Hudzaifah.org – “Aku ingin keluar dari jamaah ini!” sepotong kalimat terlontar dari seorang ikhwah. Bukan untuk yang pertama kali, namun sudah tak terhingga kalimat ini mengiang di telinga kita. Bukan pula yang terakhir kali, karena inilah sunatudda’wah. Pernyataan ini senantiasa membekas di setiap zaman, di setiap episod dakwah, dari zaman kenabian sampai hari kiamat.
“Silakan akhi, silakan ukhti,” jawab seorang ikhwah menimpali. Beberapa dari kita mempersilahkan kepergian saudara dari barisan ini dengan sikap biasa-biasa. Sikap yang lahir dari pemahaman bahwa hal ini merupakan sunnah dakwah, bahwa akan selalu lahir ikhwah-ikhwah baru, mujahid-mujahid baru, bahwa Islam akan tetap terpelihara sehingga tidak patut barisan ini merengek-rengek demi menahan kepergian seseorang, bahawa natural selection berlaku untuk membersihkan orang-orang yang barangkali memang kurang sesuai memikul beban amanah ini. Sikap ini tidak salah, banyak yang menerapkan dengan apa adanya, maka akhirnya tidak sedikitlah bilangan yang benar-benar mundur dan gugur dari barisan ini
Saat kita bersemangat, memiliki tingkat iman yang stabil atau sedikit lebih baik, kita seolah-olah melihat saudara kita pun seperti kita. Menerapkan standard stability keimanan kita kepada saudara-saudara kita, atau bahkan adik (ikhwah baru) kita. Maka, ketika keadaan saudara kita tidak stabil, sedang mengalami fluctuatution iman, futur, kita pun menganggapnya sebagai kader manja. Kita melihatnya dengan perspektif berbeza dengan apa yang dirasakannya atau yang diperlukannya. Kita yang stabil memaksa agar dia boleh bertahan di garis keimanan. Sehingga kita tidak merasa terlalu perlu untuk memberinya nasihat, atau motivasi-motivasi keimanan. Sementara betapa ia memerlukan sentuhan-sentuhan perhatian kita.
Kita berfikir bahawa suatu ketika nanti, kita akan hidup sendiri tanpa seorang ikhwah yang menemani di suatu daerah. Sehingga kita mengira bahawa kita harus bersiap-siap untuk hal tersebut. Maka ketika ada seorang yang futur, kita bersikap seolah-olah tidak peduli padanya. Dan ketika dia benar-benar mengucapkan, “selamat tinggal”, kita menyalahkannya atas kelemahannya. Kita menyelamatkan diri atas kesalahan dari futurnya saudara, dengan hiburan-hiburan bahawa ini adalah sunatuddakwah.
Tidak sedikit kisah-kisah futurnya ikhwah dari barisan ini setelah tarbiyah bertahun-tahun. Bukan hal yang mengejutkan memang, ulama bahkan ada yang murtad, berganti haluan, ustaz pun ada yang terjatuh, saat tergiur dengan indahnya dunia. Kehilangan seorang yang telah memiliki kefahaman dan mobiliti dakwah yang tinggi, apakah boleh diganti dengan masuknya 50 orang baru dalam barisan ini, tanpa kefahaman dan aksi dakwah yang mapan? Lepasnya seorang kader produktif apakah boleh ditutupi dengan hiburan bahwa 50 baru orang yang baru-baru mengikuti daurah tahap awal, dengan produktiviti dakwah yang masih kosong?
Saudaraku, apakah orang yang baru tarbiyah 1 atau 5 tahun telah boleh menyamai kepribadian Ka’ab bin Malik ra? Nilai keimanan memang tidak boleh diukur dengan lamanya tarbiyah, namun kita bisa melihat secara umum bagaimana keadaan keimanannya dengan parameter usia interaksinya dengan dakwah. Apakah kita akan menyikapi seorang yang baru setahun liqo dengan sikapnya Musa As. kepada Harun As. Saat beliau menarik janggut saudaranya? Atau kita mencuba mengikuti marahnya Abu Bakar ra. Kepada Umar ra yang memilih jalur lembut dalam menghadapi Musailamah dan orang-orang yang menolak zakat? Sekeras itukah kita berperilaku terhadap seorang ikhwah. Dimana senyummu saat pertama bertemu bersama dalam dakwah ini, dimana pelukmu seperti kepada adik-adikmu yang baru masuk dalam aksi tarbiyah?
Kunjungilah saudaramu, ketika lama ia tidak menyapamu, smslah ia saat sang adik tidak pernah muncul-muncul dalam pertemuan keimanan. Datangilah mereka yang lemah, mereka yang manja, tularkan petuah-petuah juangmu. Apakah benar sudah saatnya mereka survival dalam menjaga stabliti keimanananya Tidak, tidak ya akhi, cukuplah derai airmata ini, cukuplah kesedihan hilangnya seorang ikhwah ‘pencen’ sampai disini, dakaplah dan tahanlah mereka yang hendak pergi.
Kuntum bunga boleh layu, namun rekahnya bunga-bunga mujahid harus terjaga tetap hadir di sebuah kebun.
Kita akan bersama menempuh segalanya
Bersatu hati mendamaikan jiwa yang keluh resah
Janji patri berama ikatan teguh setia
Berjaya menuju gerbang impian kita harapkan
Di hati kita melangkah
Jangan dipisahkan kasih bersaudara
Jangan di dendamkan ukhwah yang terbina
Tuesday, March 18, 2008
"Kita ini berbeza"
Oleh : Dr. Ahmad Jamalludin
Orang yang menyatakan ungkapan ini boleh dituduh eksklusif. Bahkan
ada yang mengatakan "Kita ini istimewa, bukan sekadar berbeza". Nah,
kalau yang ini bahkan boleh kita dituduh sebagai facist. Namun ada hal
yang saat ini mengganggu ruang benak saya; bahwa kita perlu merasa
istimewa, dan perlu menyadari keistimewaan kita. Namun keistimewaan
kita bukanlah bermakna ketinggian derajat di antara sesama manusia,
bahkan boleh membawa bermakna sebaliknya.
Seorang kawan mengatakan bahwa pengetahuan dan pemahaman
adalah "perangkap" bagi kita. Kerana kita dituntut untuk beramal sesuai
dengan pengetahuan dan pemahaman kita, dan Allah SWT akan
mengazab orang-orang yang amalnya tidak sesuai dengan
pengetahuannya. Kita tidak mahu menjadi orang yang sudah tahu mana
yang benar dan mana yang salah, mana yang baik dan mana buruk, tapi
masih menolak mengikuti kebenaran dan enggan meninggalkan
keburukan. Orang yang bodoh adalah orang yang tidak mengetahui
kebenaran, sedangkan orang yang ingkar adalah orang yang mengetahui
kebenaran tapi menolak mengikuti kebenaran tersebut.
Dan "celaka"nya, kita ini termasuk orang-orang yang dalam segi
pemahaman Islam lebih baik dibandingkan dengan rata-rata mahasiswa
di kampus kita. Kita beraktiviti dalam organisasi Islam –baik ruhi
ataupun LDF/LDK-, kita membaca buku-buku Islam lebih banyak dan
lebih dari kebanyakan mahasiswa, kita mengalami proses tarbiyah
secara khusus, dan kita beraktiviti atas nama dakwah sehingga pemahaman kita akan amal-amal dalam Islam, terutama amal dakwah, lebih baik dari kebanyakan teman-teman kita yang lain.
‘Ujub? Tidak sepatutnya! Kerana ketinggian pemahaman kita sama
sekali tidak menunjukkan ketinggian darjat kita.
penting dari sekedar memahami, yaitu melaksanakan apa yang kita
fahami. Dan inilah yang mungkin boleh menambah nilai diri kita di mata
Allah ‘azza wa jalla. Pemahaman ini juga berisiko sebaliknya, yaitu
menurunkan kualiti kita di mata Allah, saat kita menolak untuk beramal
sesuai dengan pemahaman kita.
Hingga "terperangkap" lah kita di sini. Kita "terlanjur" tahu mana yang
benar dan mana yang salah, "terlanjur" tahu apa yang dapat membawa
kita pada kemuliaan dan apa yang menggiring kita menuju kehinaan.
Dan kita tidak punya pilihan selain beramal.
"Jadi lebih baik kalau kita tidak tahu apa-apa?
Lebih teruk lagi kalau kita sampai punya pemikiran seperti itu. Kerana
pemahaman kita adalah jalan menuju kemuliaan di sisi Allah SWT.
(Tidakkah kita dambakan kedudukan di sisi Allah SWT?) Kita punya
kesempatan untuk mempunyai ‘amal soleh lebih baik dan lebih banyak
daripada mereka yang tidak paham. (Kenapa mahu memilih yang
sebaliknya?)
Kalau memang kita memilih untuk tidak tahu apa-apa, matikan saja
fungsi akal kita! Maka kita akan menjadi makhluk yang tidak berbeda
dengan haiwan yang tidak tahu kebenaran dan kesalahan, kebaikan dan
keburukan.
Kita Harus Diperlakukan Istimewa
"Kenapa ada ta’limat yang hanya untuk sebagian ikhwah-akhawat saja?
Kenapa kita diasingkan yang lain tidak? Kenapa kita wajib memenuhi
permintaan tapi yang lain tidak?" Jawapannya mungkin sama dengan
alasan kenapa yang dipulaukan waktu Perang Tabuk hanya 3 orang
sahabat saja.
Saat RasuluLlah memerintahkan kaum muslimin untuk berperang dalam
Perang Tabuk, banyak warga Madinah yang tidak ikut berperang.
Sebagian besar adalah orang munafik dan kaum muslimin yang
keimanannya belum kuat. Orang-orang munafik ini memberikan berbagai
alasan agar dapat dimaafkan, tapi ada 3 orang sahabat yang sungguh-
sungguh keimanannya, dan mereka mengakui kekhilafan serta dosa-
dosanya, yaitu Ka’ab bin Malik, Murara bin Rabi’ dan Hilal bin Umayyah.
Sepulang dari Perang Tabuk RasuluLlah beserta kaum mu’minin
memboikot hanya mereka bertiga dalam urusan kemasyarakatan.
Jadi memang ada orang yang seharusnya mendapat layanan/hukuman
berbeza berbanding yang lain walaupun pelanggarannya sama. Kita yang
sudah tahu pentingnya ketaatan dalam berjamaah harus diperlakukan
berbeza daripada yang belum tahu; hukuman/teguran harus lebih berat
kalau tidak taat. Kita yang sudah tahu adab pergaulan harus ditegur
lebih keras daripada yang belum tahu kalau melakukan hal yang
"macam-macam" .
‘Ujub lagi? Tidak seharusnya! Sekali lagi ini berhubungan dengan
pengamalan pemahaman kita. Mungkin harusnya kita malu kerana kita
masih minta banyak keringanan dan mencari-cari alasan kalau tidak
melaksanakan seruan dan amanah dakwah.
Saya Ini Penyu, Ikhwah-Akhwat Itu Rembulan
Ramadhan tahun ini benar-benar dimanfaatkan sebagai anjang
muhasabah buat saya dan beberapa ikhwah. Waktu i’tikaf kami
berdiskusi sambil mengintrospeksi diri. Kemudian ada yang berkata "Saya
ini sebenarnya malu sama ikhwah-akhawat. Selama ini Saya cuma jadi
beban, tukang bikin masalah. Saya banyak membebankan jama’ah
dengan kesalahan-kesalahan yang Saya lakukan, sedangkan Saya belum
pun memberikan sumbangan apa-apa buat dakwah ini. Sementara ikhwah
-akhawat yang lain begitu luar biasa perjuangannya, hingga terkadang
Saya merasa tidak layak untuk diakui sebagai saudara mereka. Kalau
diumpamakan ikhwah-akhawat itu ibarat rembulan, sedangkan Saya
ibarat penyu".
Kedengarannya mungkin ikhwah kita ini sangat tidak percaya diri. Tapi
kata-katanya bersumber dari perenungan dan muhasabah, sehingga
sangat berbekas di hati Saya. Saya merenungkan bahwa begitu banyak
hal yang harus Saya akui sebagai kesalahan, yang membuat Saya begitu
ingin meminta maaf kepada ikhwah-akhwat. Sedangkan belum ada amal
yang dapat Saya kelaskan sebagai ‘amal soleh. Amal-amal Saya pasti
ada kekurangan dan kesalahannya, baik dari segi kontribusinya terhadap
dakwah, maupun dari segi ma’nawiyahnya (keikhlasan, keistiqomahan,
bebas riya’, dan lain-lain). Dan Saya pun ikut merasa ibarat penyu yang
tak layak bersanding dengan rembulan.
Seorang ustadz pernah mengatakan bahwa dakwah ini dibangun dengan
susah payah dan kerja keras para da’i, namun untuk merosak bangunan
dakwah ini cukup hanya dengan kecerobohan satu dua orang saja.
Sungguh menjadi sebuah mimpi buruk bagi kita, bila di Hari Akhir nanti
kita dimintai pertanggungjawaban kerana telah merusak kerja keras
saudara-saudara kita, bukannya memecahkan masalah dakwah malah
menjadi masalah itu sendiri, bukannya meringankan beban saudara-
saudara kita malah menambah berat beban itu.
Dan bukankah selama ini kita memang sudah membebankan ikhwah-
akhawat? Kita sudah memerah para murabbi/murabbiyah agar mereka
mengorbankan waktu, tenaga, dan pikiran demi membina kita, tapi
ternyata produktiviti kita dalam dakwah sangat kurang ("Kaga [Tak]
balik modal" kalau kata orang Betawi). Kita juga sudah menyia-nyiakan
ikhwah-akhawat yang sudah letih dan pusing memikirkan pembinaan
kita, yang sudah sibuk-sibuk menguruskan daurah, mengelola
mentoring/halaqah kita, dan sudah penat memikirkan kenakalan-
kenakalan kita. Sementara kita sendiri belum melakukan apa-apa bagi
dakwah, dan belum berbuat apa-apa untuk meringankan beban mereka.
Hmmm, jadi gimana, ya?!
Monday, February 25, 2008
A point to ponder
Ordinary people searching for fault.
Great people solve them.
Which one are you?
Ummah memerlukan seorang yang berfikir, belajar, mengajar dan bertindak atas apa yg dipelajari dan sentiasa membaiki apa yang kurang.
Semoga kita menjadi roh baru dalam jasad ummah ini!
tips untuk buat maksiat
berikut ialah tips kalo korang nak buat maksiat
1. jangan makan rezeki Allah
2. jangan berpijak di bumi Allah
3. buat maksiat kt tempat Allah takleh tengok
4. suro malaikat maut suro tunggu jap masa ajal
5. lawan ngn malaikat zabaniyah masa dia nak tarik ke neraka
kalo korang takleh nak buat semua dalam list tu, rentikan je laa niat nak bermaksiat tu.. menghabihkan ATP jer..
wallahua'lam
Sunday, February 24, 2008
Thursday, February 21, 2008
Ya Syeikh.. Kemewahan Bukan Cita-cita Kami
Dalam sebuah perjalanan kami bersama beberapa Ikhwah, ada perbincangan menarik. Salah seorang Al Akh bertanya, “Akhi, berapa pendapatan Antum sebulan dari mengajar?” Ikhwah tersebut tersenyum dan malu menjawabnya. Namun, ketika ditanya lagi dengan nada bergurau, ia pun menjawab, “150 ribu sebulan.” Inilah ikhwah kita, kader da’wah yang memiliki banyak kelompok halaqah.
(300 ribu rupiah = 100 ringgit malaysia)
Ada lagi, Ikhwah yang pernah kami temui, ia aktivis dan banyak amanah da’wah yang dia pikul. Ia hanya berpendapatan tidak sampai 300 ribu rupiah dari membuat minuman penghangat badan, wedang jahe.Itulah ikhwah kita, mereka hidup dipelosok. Namun, kami kira mereka juga ada di sekitar kita, saudara kita di halaqah, di wilayah da’wah kita, bahkan ia -mungkin- kita sendiri. Tetapi mereka tidak mengeluh, tidak lemah, dan Allah Ta’ala mencintai orang-orang yang sabar.
Syahdan, di kota besar ada pula ikhwah da’iyah yang hidupnya lebih dari cukup, bahkan sangat-sangat lebih. Itu baik dan tidak masalah. Namun, jadi masalah jika ia mengiklankan kemewahan, menyeru orang kepadanya, memberikan ilustrasi keunggulan `mewah’, bukan sekadar bercerita kekayaan. Ia menghiasi dengan berbagai dalil dan alasan yang dipaksakan untuk menghalalkan pemikiran dan perilakunya sendiri. Membicarakan pentingnya kekayaan, harta, kemewahan, dengan alasan maslahat da’wah dan sebagainya, kerana ia sudah merasakannya. Lalu, ke mana dahulu ketika keadaannya belum seperti sekarang? Kenapa maslahat-maslahat itu baru dibicarakan saat ini ? Apakah dibicarakan untuk pledoi? Apa ia tidak pernah tahu kondisi ikhwah lain yang serba sulit? Atau memang tidak mahu tahu?
Tak usah ajarkan kami, kami sudah mengetahui harta memang penting. Kaya memang penting. Majoriti para sahabat yang mubasyiruna bil jannah (dikabarkan akan masuk surga) adalah orang-orang kaya. Orang kaya yang bersyukur lebih utama dari orang miskin bersabar. Rasulullah Shallallahu `Alaihi wa Sallam pun berdoa berlindung dari kekafiran dan kefaqiran. Dan, kami pun tetap bekerja untuk menafkahi anak dan isteri kami … Alangkah baiknya jika kami tetap diajarkan -oleh da’i itu- bagaimana menjadi hamba yang soleh, hamba yang bersyukur terhadap kekayaan, bersabar atas kesulitan, berjihad, istiqamah, dan ilmu-ilmu bermanfaat lainnya untuk agama dan dunia kami, agar kami menjadi peribadi yang apa adanya menurut Al Quran dan As Sunnah, bukan peribadi yang seharusnya menurut keadaan dan status sosial. Dan, tidak usah menyesali jika dahulu kami `lupa’ diajarkan tentang masalah kekayaan dalam silibus tarbiyah kami, kerana hakikat kekayaan adalah kaya jiwa. Inilah keyakinan dari keimanan kepada Allah Ta’ala, dan pemahaman terhadap harta secara sihat, dan jangan memaksakan pemahaman yang asing dalam sejarah da’wah dan tarbiyah.
Tetapi Ya Syaikh …, kaya bukanlah mewah, walau ia bersumber dari satu hal yang sama yakni harta, tetapi ia berbeza secara nilai yakni mentaliti. Mentaliti aji mumpung; mumpung ada, mumpung menjabat, mumpung dekat dengan orang kaya, mumpung di atas, mumpung punya binaan kalangan menengah ke atas (untung sabut timbul, untung batu tenggelam). Tak ada kamus untung sabut timbul dalam kehidupan teladan kami, Rasulullah Shallallahu `Alaihi wa Sallam, ia memegang kunci-kunci kekayaan, jika ia mahu mudah sekali mendapatkannya. Tetapi, ia amat sederhana. Para sahabat, memang kaya, tapi adakah kita mendengar mereka mengiklankan kemewahan, dan bersenang-senang ketika ada saudaranya kesulitan? Justeru mereka menampakkan kesederhanaan dan kesahajaan. Mereka tahu perasaan sahabat nabi lainnya. Ya .. mereka tahu perasaan manusia ..
Khadijah seorang wanita kaya, ia saudagar wanita, ketika nikah dengan Rasulullah ia menjadi sederhana. Kekayaannya ia habiskan untuk perjuangan suaminya, bukan dihabiskan untuk menikmati kenikmatan hidup. Jangan sekadar melihat besarnya mahar ketika mereka berdua nikah, tetapi lihatlah buat apa dan dikemanakan mahar tersebut, apakah mahar tersebut merubah Rasulullah menjadi laki-laki yang mewah? Tidak! Terlalu naif membicarakan kemewahan hanya melihat dari ukuran mahar pernikahan Rasulullah Shallallahu `Alaihi wa Sallam dan Khadijah Radhiallahu `Anha. Umar bin Abdul Aziz ia seorang kaya, ketika menjadi khalifah justeru ia tinggalkan kekayaannya. Tetapi, kewibawaan mereka sama sekali tidak berkurang, justru melambung tinggi, kerana Allah Ta’ala telah muliakan mereka. Kemana contoh-contoh ini?
Untuk contoh masa sekarang adalah Usamah bin Ladin -setuju atau tidak dengan ideologi dan segala upaya jihadnya- ia adalah seorang kaya raya, bahkan sangat kaya, kalau dia mau boleh saja CNN dibelinya. Tapi, dia hidup amat sederhana, makan seadanya, dia serahkan kekayaannya untuk membiayai perjuangannya. Bukan mencari kekayaan dari perjuangan, bukan mencari biaya hidup dari perjuangan. Itulah letak kewibawaan.
Rasulullah dan para sahabat adalah teladan kita, qudwah hasanah kita … selamanya. Kami tidak perlu teladan yang lain, walau ia berilmu, senior da’wah, tetapi … alhamdulillah, kami tidak pernah silau dengan istilah, gelar, dan pujian manusia yang sehaluan dengannya. Walau kami sangat menghargai dan menghormati peran dan kontribusi da’wah yang telah mereka lalui demikian panjang.
Kesederhanaan Adalah `Izzah
Ada sudut pandang simplistis yang biasa dilontarkan oleh manusia yang ber’ideologi’ kekayaan dan kemewahan. Sudut pandang kesetaraan status dan kepantasan lingkungan, agar penerimaan dirinya dilingkungan yang baru, boleh diterima dengan baik. Sudut pandang materialistik kapitalis ini, satu-dua contoh kes boleh saja benar, bahawa jika Anda bergaul dengan kalangan jet set tetapi ketika menghadap mereka dengan `hanya’ motor kapcai atau mobil second hand, lalu Anda kurang dianggap, kurang `berharga’ di mata mereka. Boleh saja itu terjadi, dan boleh pula itu perasaan dan sugesti saja. Jangan pernah memandang bahawa kesulitan hidup, adalah biang keladi segala masalah kita -para da’i dan umat Islam- saat ini. Tak ada manusia satu pun yang ingin susah dan miskin, tetapi jangan pula menganggap kekayaan adalah solusi jitu, yang akhirnya harus dikejar-kejar dan diserukan secara demonstratif, kerana taqwa dan kesolehan itulah solusi, sedangkan kekayaan adalah penunjang atau boleh juga jadi fitnah.
Kenapa contoh keserhanaan Abu Dzar, kewara’an Abu Bakar, kezuhudan Umar, kedermawanan Utsman, dan kesulitan hidup Ali, tidak menjadi sudut pandang kita. Apa yang mereka alami ini tidaklah meluluhkan wibawa mereka di depan Al Khaliq dan makhluk. Justeru semakin melambung tinggi dan nama mereka tercatat abadi dalam konfigurasi sejarah manusia-manusia pilihan. Itu mereka dapatkan bukan kerana kekayaan dan kemewahan, tetapi keikhlasan, kesederhanaan, dan pengorbanan mereka. Benarlah yang dikatakan oleh Rasulullah Shallallahu `Alaihi wa Sallam:
Dari Abu Hurairah Radhiallahu `Anhu berkata, bahwa Rasulullah Shallallahu `Alaihi wa Sallam bersabda: “Sesungguhnya, kalian tidak akan mampu menguasai manusia dengan harta kalian, tetapi kalian boleh menguasai mereka dengan wajah yang bersahaja dan akhlak yang baik.” (HR. Abu Ya’la, dishahihkan Al Hakim, Bulughul Maram min Adillatil Ahkam, Kitab Al jami’, Bab Targhib fi Makarimil Akhlaq, hal. 287. Hadits no. 1341. Cet 1, 2004m/1425H. Darul Kutub Al Islamiyah)
Kesederhanaan para da’i di lingkungan yang `tidak sederhana’ adalah hal yang istimewa, ia nampak tidak tergoda dunia, walau dunia mengejarnya. Ia nampak mampu mengendalikan dunia, dunia ada ditangannya bukan dihatinya. Jika ia anggota dewan, pejabat, petinggi Partai Da’wah, dahulunya ia da’i yang sederhana, dan ia tetap sederhana di lingkungan yang `tidak sederhana’, maka ia seperti cahaya di tengah kegelapan, ia seperti keteladanan di zaman yang minim keteladanan. Insya Allah, Allah akan mencintainya, dan manusia pun mengaguminya. Inilah sudut pandang yang seharusnya … Syaikh! Bukan justeru latah, ikut-ikutan, dan menjadi norak, sehingga menjadi tak ada bezanya dengan hamba dunia yang dahulu pernah kita benci, paling tidak beti (beda-beda tipis) dengan mereka.
Dari Sahl bin Sa’ad Radhiallahu `Anhu dia berkata: “Datang seorang laki-laki kepada Nabi Shallallahu `Alaihi wa Sallam, dia berkata: “Wahai Rasulullah tunjukkanlah kepadaku jika aku lakukan maka Allah dan manusia akan mencintaiku. ” Maka Ia bersabda: “Zuhudlah di dunia nescaya Allah akan mencintaimu, dan zuhudlah terhadap apa-apa yang ada pada manusia, nescaya manusia akan mencintaimu. ” (HR. Ibnu Majah, sanadnya hasan. Bulughul Maram min Adillatil Ahkam, Kitab al Jami’ Bab Zuhd wal Wara’, hal. 277. Hadits no. 1285. Cet 1, 2004M/1425H. Darul Kutub Al Islamiyah)
Akan Dibangkitkan Sesuai Niatnya
Da’wah ini telah diramaikan oleh beragam manusia; tipe, kecenderungan, skill, kebiasaan, sifat, dan niatnya. Faktor niat inilah yang akan mengendalikan dan mengarahkan masing-masing da’i, bahkan yang menentukan masa depan mereka di akhirat. Mereka sama-sama berjuang, sama-sama lelah, tapi mereka akan dibangkitkan di akhirat sesuai niatnya masing-masing. Ada yang niat dunia seperti ketenaran, populariti, kekayaan, pangkat, wanita, walau ini mampu disembunyikan dengan sangat rapi di dunia, berbungkus da’wah dan berhasil mengelabui banyak manusia, tetapi akan tersingkap di akhirat. Semoga Allah Ta’ala merahmati dan memberikan balasan yang lebih baik bagi da’i-da’i akhirat, yang hanya mengharapkan Allah Ta’ala dan ketinggian agamaNya.
Dari `Aisyah Radhiallahu `Anha berkata: Rasulullah Shallallahu `Alaihi wa Sallam bersabda: “Akan ada tentera yang menyerang Ka’bah, akan tetapi ketika mereka sampai di sebuah lapangan, tiba-tiba mereka semua dibinasakan, dari awal sampai akhirnya.”`Aisyah bertanya: “Ya Rasulullah, bagaimanakah dibinasakan semua, padahal di antara mereka ada orang-orang yang tidak ikut-ikutan seperti mereka, iaitu orang-orang yang di pasar dan lain-lain?“Rasulull ah menjawab:“Mereka dibinasakan semua, lalu dibangkitkan menurut niat masing-masing. ” (HR. Bukhari- Muslim, lafaz ini menurut Bukhari. Riyadhus Shalihin, Bab Al ikhlas wa Ihdhar an Niyah, hadits no. 2. Maktabatul Iman, Manshurah)
Jadi, amal akhirat manusia, seperti da’wah dan jihad menjadi hal yang sia-sia jika niatnya adalah dunia. Dalam riwayat lain, dari Ubai bin Ka’ab Radhiallahu `Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu `Alaihi wa Sallam bersabda:“Barang siapa yang beramal akhirat dengan tujuan dunia, maka dia tidak mendapatkan bahagian di akhirat.” (HR. Ahmad, Ibnu Hibban, Al hakim dan Al Baihaqi. Al Hakim berkata: sanadnya shahih, dan disepakati Adz Dzahabi. Al Haitsami mengatakan hadits ini diriwayatkan Ahmad dan anaknya dari beberapa jalur, dan para perawi Ahmad adalah perawi shahih, Majma’ uz Zawaid 10/220)
Kami Tidak Mengharamkan Perhiasan Yang halal dari Allah!
Jika ada yang menyangka, ini adalah sikap sok suci, sok tidak butuh kekayaan, apalagi disebut iri, maka ia amat keliru. Kami meyakini, setelah iman yang mendalam dan amal yang terus-menerus, maka da’wah memerlukan kekuatan, di antara kekuatan yang penting hari ini adalah dana. Tentunya, orang yang tidak memiliki harta tidak bisa memberikan kekayaan. Bertemunya keimanan dan kekayaan, akan membentuk peribadi yang dermawan.
Namun yang menjadi tema dan sorotan kami adalah gaya hidup para da’i yang mengalami culture shock, OKB, Orang Kaya Baru, lalu dia demonstratif dalam hal itu. Dia lupa bahwa dirinya berada di lingkungan da’wah, dan para ikhwah yang kebanyakan `tidak seberuntung dia’. Para Ikhwah yang hidupnya kembang kempis.
Bergesernya orientasi da’wah ilallah menjadi da’wah `Road to Kekayaan’, inilah yang harus disorot dan diwaspadai. Sesungguhnya, peringatan itu bermanfaat buat orang-orang beriman. Namun bagi yang sulit menerima nasihat, hatinya kesat, maka kami katakan:
Berpestalah … bersenang-senanglah … dan lakukan semua kehendakmu …. Anda bebas saudaraku… Tetapi, pesta pasti berakhir itu pasti ….
Kami juga meyakini, bahwa secara nilai normatif, banyak yang lebih faham dari kami tentang ini, lebih faqih, lebih berpengalaman, lebih cerdas, lebih pandai, lebih tahu masalah, pokoknya segalanya di atas kami ….Tetapi, yang kami (para kader da’wah) minta adalah jangan ajarkan kami kemewahan, sebab itu bukan cita-cita, obsesi, dan ambisi kami … jangan contohkan kami perilaku yang dahulunya sama-sama kita benci, sebab itu kabura maqtan … dan jangan paksa kami untuk mengikuti jejak perilaku dan pemikiran yang Anda iklankan ….Semoga hidayah dan bimbingan Allah Ta’ala selalu menyertai kita semua .. Amin
“Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), Maka kami segerakan baginya di dunia itu apa yang kami kehendaki bagi orang yang kami kehendaki dan kami tentukan baginya neraka jahannam; ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir.Dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mukmin, Maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalasi dengan baik.” (QS. Al Isra’ : 18-19)
Wallahu A’lam wa Illahil `Izzah
Monday, February 18, 2008
Polymath

Ibnu Firnas: "Ibn Firnas was the first man in history to make a scientific attempt at flying."
He is an aviator, inventor, technologist, chemist, humanitarian, musician, physician and poet.
al Farabi: "The second teacher of the new world"
He is a scientists and philosophers, cosmologist, logician, musician, psychologist and sociologist.
Ibnu Haytham: "The father of optics. The 'mad' scientist"
He is a scientist, physicist, anatomist, physician, psychologist, astronomer, engineer, mathematician, ophthalmologist, philosopher, and Ash'ari theologian.
al Biruni: "One of the greatest mind of Islam"
scientist, physicist, anthropologist, astronomer, astrologer, encyclopedist, geodesist, geographer, geologist, historian, mathematician, natural historian, pharmacist, physician, philosopher, scholar, teacher, Ash'ari theologian, and traveller.
Ibnu Sina: "The father of modern medicine"
He is a physician, pharmacologist, philosopher, metaphysician, aromatherapist, astronomer, chemist, Hanafi jurist and theologian, physicist, scientist, universalist, poet, statemen, and soldier.
Ibnu Rusyd: "The man who influenced Western Europe"
He is a master of philosophy, theology, Maliki law and jurisprudence, astronomy, geography, mathematics, medicine, physics, psychology and science.
Nasiruddin al Tusi: "Father of astronomy"
He is an astronomer, biologist, chemist, mathematician, philosopher, physician, scientist, and theologian.
Ibnu Khaldun: "Father of economics, sociology, history, historiology, demography, philosophy of history.... or in short words, the Father of all social sciences"
He is an Arab social scientist, sociologist, historian, historiographer, philosopher of history, demographer, economist, linguist, philosopher, political theorist, military theorist, Islamic scholar, Ash'ari theologian, diplomat and statesman; "a still-influential polymath".
Sultan Sulaiman: "The magnificient"
He is an an Ottoman emperor, "Renaissance Man", "goldsmith, warrior, leader, scholar, and poet
Us: Eh, polymath tu ape ha? Ada kaitan ngn poligon ke?
Tuesday, February 12, 2008
Promosi makan nasi
Dah lama tak tulis pasal analogi nasi. InsyaAllah pagi ni kita akan cakap pasal promosi makan nasik.
Ada dua orang pemuda. Kedua-duanya faham, ikhlas, dan bersemangat untuk mempromosikan nasik beriani yang sungguh sedap lagi enak sampai menjilat jari. Namun masing-masing ada cara tersendiri dalam mempromosikan nasik beriyani itu.
Encik A: Mari tuan-tuan puan-puan abang adik kakak makcik pakcik datuk nenek.. ni saya nak promote nasik beriyani yang sedap menggunakan beras herbal ponni taj mahal, beras basmati terbaik di seantero dunia. Mudah je nak buat nasik beriyani ni, cuma perlu masukkan 3 pot beras ke dalam rice cooker, lepas tu masukkan air sebanyak 6 pot, 100 gram daging ayam (yg sudah disembelih dengan cara yang halal) yang dipotong dadu, lepas tu masukkan satu peket perencah nasik beriyani jenama Faiza yang boleh didapati di kedai-kedai runcit berhampiran dengan kediaman anda. Jangan lupa switch on periuk elektrik anda. Tunggu sampai masak, kalo makan tak masak nanti sakit perut la plak kan.. Kemudian anda boleh tuangkan ke pinggan yg bersih menggunakan pencedok nasik, dan hidangkan kepada keluarga tersayang. Mudah bukan?
Ohh.. kalau anda semua dah terlupa cara-cara, saya ada tuliskan di atas flyer ini, dan anda boleh dapatkan dengan percuma.
********
Semua hadirin mendengar dengan khusyu', namun dengan hati yang ragu-ragu dan terpinga-pinga dengan penjelasan panjang lebar oleh Encik A.
********
Encik B: Anda semua mesti dah penat telinga dan perut lapar selepas mendengar penjelasan kawan saya tadi tu kan? Saya malas nak cakap panjang. Tapi biarlah nasik beriyani yg telah saya masak dengan ramuan yg kawan saya ceritakan tadi berbual dengan perut kalian. Makanlah nasik yg saya sediakan ini sementara stok masih ada.
(Sambil menghulurkan bungkusan bekas plastik berisi nasik beriyani yg sudah dimasak).
********
Semua hadirin tanpa berlengah-lengah terus berebut-rebut menikmati nasik beriyani yang lazat itu. Dan kini mereka yakin seyakin-yakinnya bahawa nasik beriyani itu memang ada umph.. tiada lagi keraguan dalam hati mereka.
*********
Pengajaran: Tak guna cakap banyak, tulis berapi tapi takde amal sebagai contoh teladan. Bak kata Pak SHAB, "
Medan fikir lebih luas dari medan cakap
medan cakap lebih luas dari medan amal
medan amal lebih luas dari medan jihad
dan jihad yang terbaik ialah jihad yang muntijah!
wallahua'lam
Thursday, January 24, 2008
Makan (dan minum) dalam circle
Kepada rakan-rakan yang selalu belajar, berhujah, bergelak, bermenangis, bertidur, bermakan, berminum (dan bermacam-macam ber lagi) dalam circle, pernah tak korang semua menghadapi situasi seperti di bawah?
Si A tuang air sirap ke dalam gelas. Pass gelas kepada si B.
B pass kepada C.
C pass kepada D.
D pass kepada E.
E pass kepada F.
F pass kepada G.
G pass kepada H.
H pass kepada A semula (pasal dah cukup satu pusingan).
Bila ditanya mengapa korang buat sedemikian, maka dengan serentak dan tanpa segan-silunya korang akan jawab,
"Oh ini disebabkan ukhuwwah fillah abadan abada lestary selamanya antara kami! Jadi dengan mendahulukan sahabat, maka ini tandanya kami sedang itsar antara satu sama lain!"
Maka ini jawapan aku, (yang selalunya dipendamkan dalam hati je utk menjaga takliful qulub) you are bunch of losers! Bazirkan ATP je keje.. Kan senang kalo dari awal lagi si A tu terus tuang air pastu terus minum je air tu. Ampeh.
Mula-mula kita fahami dulu apa itu itsar.
Itsar: Mementingkan saudara lebih dari kepentingan sendiri.
Okeh mari kita kaji kejadian di atas dengan lebih spesifik.
Bilangan orang: 8
Bilangan gelas: 8
Kesimpulan: Semua orang dapat minum. Jadi kepentingan semuanya adalah sama rata. Maka, tiada orang yang boleh mementingkan saudaranya lebih dari diri sendiri kerana tiada yang kurang dan tiada yang lebih penting. Kesimpulan, tiada itsar di sini, yang ada hanyalah sebulatan manusia membazirkan ATP dengan mempassing gelas mengikut arah jam.
Okeh, sekarang mari kita buka kembali buku sirah, dan baca tentang kisah itsar antara para sahabat nabi.
Ketika satu peperangan islam dengan al batil, seorang tentera mendapat tahu sepupunya luka teruk dalam pertempuran. Maka dia membawa segelas air untuk sepupunya agar dapat mengurangkan kesakitan beliau. Tatkala dia menghulurkan gelas kepada saudaranya itu, terdengar jeritan orang mengerang, lantas sepupunya berkata,
"Berikan air kepadanya. Sesungguhnya dia lebih berhak dariku."
Dia pun bergegas kepada orang yang kedua, dan saat dia menghulurkan gelas, terdengar satu laungan yang dahsyat dari katil sebelah, dari seorang soldadu islam yang juga luka parah.
"Berikan air ini kepada saudaraku. Dia lebih memerlukan air ini dariku."
Lantas dia bergegas membawa air itu ke katil sebelah. Sesampainya di situ, rohnya sudahpun terbang bersama-sama mereka yang menang di jalan Allah.. Dia kembali kepada sepupunya dan tentera tadi, alangkah terkejutnya mereka berdua pun sudah pulang ke sisi Allah cinta hakiki mereka di dunia dan akhirat. Dan Allah akan menggantikan setiap titis air tadi dengan air yang jauh lebih mahal di akhirat atas cinta dan itsar mereka sesama saudara.
Inilah itsar yang sebenarnya dituntut dalam Islam. Memberikan sesuatu yang kita sangat-sangat cintai, desparate dan perlukan kepada saudara yang lebih kita sayangi, hatta saat sakaratul maut melambai-lambai di depan mata. Dan mereka dapat merasai kesakitan kita, kesusahan kita, kegusaran hati kita, kerana Allah telah mempersatukan jiwa-jiwa yang saling mencintai antara satu sama lain.
Ramai orang boleh itsar ketika sama-sama kenyang, tetapi berapa ramaikah yang sanggup untuk terus itsar ketika semua perut kelaparan?
wallahua'lam
p/s 1: sesungguhnya yang menulis ini masih banyak perlu belajar dan menghidupkan itsar kepada saudara-saudaranya..
p/s 2: penah sekali tu masa turun gunung nuang di hulu langat (1495 meter), turun di tengah-tengah kegelapan (sampai base camp pkol 3 pagi), kesejukan, hujan dan tanah runtuh, route berlecak dan asyik terjatuh dalam lubang pasal tak bawak lampu, dan masa itulah rasa manisnya ukhuwah yang Allah lontarkan ke dalam hati-hati hamba-Nya yang cinta sesama satu dan lain..
Hari terpanjang
Setiap hari ada 24 jam, tidak kurang dan tidak lebih. Dan setiap orang dikurniakan 24 jam, tak kira lah dia sama ada dia tu Presiden ataupun makcik Cleaner.
Tapi perasan tak, kadang-kadang tu kita rasa masa ni panjaaaaang sangat. Dalam satu hari tu kita boleh buat macam-macam. Dari lepas subuh sampai lah ke tengah malam, macam-macam kita isi. Dan kadang-kadang, kita rasa hari tu, pendek sangat. Celik-celik mata, dah tengahari. Pastu pejam mata balik, dah masuk malam.
Semua ni adalah disebabkan keberkatan masa tu sendiri. Allah yang mengurniakan keberkatan pada kita agar kita tak jadi orang yang RUGI. Apa ciri-ciri orang yg masanya diberkati? Boleh check surah MASA.
Demi masa (atau demi waktu asar).
Sesungguhnya manusia dalam KERUGIAN.
Kecuali:
Orang beriman,
beramal soleh,
saling menasihati atas kebenaran,
dan atas kesabaran.
Alhamdulillah, semalam 23 Januari 2008, Allah mengurniakan hari terpanjang dalam sejarah hidup saya.
Semoga akan ada banyak lagi hari-hari sedemikian dalam helaian-helaian diari malaikat raqib untuk saya, amin.
amar kun,
cheras-sentul-bangi-kajang-subang-sunway-taylors.
23 Januari 2008
Monday, January 21, 2008
SSQ 1
SSQ ini ialah singkatan kepada "Sembang-sembang Qannas". Qannas ni sahabat baik saya dan saya amat meminati gaya penulisan beliau yang sangat best. Maka sukalah saya di sini untuk berkongsi sepatah dua kata daripada beliau. Selamat membaca! :)
Tulisan-tulisan beliau boleh didapati di sini.
SSQ 1: Kegagalan, di mana kayu ukurnya?
“Hidup saya penuh kegagalan. Dari kecik sampai besar ada je masalah dalam buat benda-benda. Asyik-asyik tak kene je. Dah masuk U, keluar balik, masuk yang lain… Tengok orang lain berjaya, kadang-kadang iri hati juga, tapi apa nak buat, saya dan kegagalan dah macam adik-beradik,” kata seorang teman.
Saya terfikir. Oklah kegagalan. Bukan semua orang berjaya dalam kehidupan. Dah tak semua gagal dalam kehidupan. Mungkin itulah warna-warni dalam kehidupan. Ada naik turun. Ada yang penuh gilang gemilang. Ada yang sederhana. Ada yang tak berjaya-jaya juga sampai last. Tapi apa sebenarnya takat ukur kejayaan dan kegagalan.
Apakah dengan tidak masuk U anda gagal. Atau memang dari sekolah rendah anda maintainkah record sebagai no. 1 dari belakang? Atau apa sebenarnya? Atau berjaya itu adalah dengan selalu mendapat dean’s list setiap sem, dan dapat straight A’s dalam national exam, dan..dan..dan.
Sebab saya secara peribadi, suka berkawan dengan orang yang hidupnya tak lurus dan mudah. Itu biasa. Saya suka kawan dengan orang yang kaya pengalaman. Hidupnya ada pelbagai warna. Ada naik turun. Ada kene kejar, kena tipu dan kena makinya. Sebab dari sekolah kehidupan dia belajar banyak benda yang kita tak belajar di sekolah teori dan falsafah.
Ye mungkin hidup dia tak secerah pelangi hidup kita yang lain. Kita mudah. Dari sekolah dapat no. 5 ke atas. Masuk menengah straight A’s, masuk U dean’s list, dapat scholar, kerja dapat mudah. 5 digit pay. Naik pangkat. Kawin. Jadi bos. Pencen. Duit masuk. Jaga cucu.Mati. Owh begitu mudahnya. Dan kita claim kita seorang yang berjaya dalam kehidupan.
Tanda aras
Saya selalu teringat, Allah sebut dalam surah al-Ankabut: “Apakah manusia mengira bahawa dibiarkan mengatakan bahawa kami beriman sedangkan mereka tidak diuji..?”Jelas sekali. Takat ukur kejayaan dan kegagalan. So, jangan mudah-mudah claim kata aku dah berjaya, sedangkan hidup anda laluannya sangatlah mudah.
Bayangkan mereka yang the so-called gagal dalam kehidupan. Nabi sendiri lebih dari 70 kali ketuk pintu rumah Abu Jahal sehari, mengajaknya kepada Islam. Adakah itu kegagalan? Alexamder Graham Bell, selepas kali ke seratus lebih baru berjaya mencipta telefon. Adakah sebelum itu dia gagal?
Kegagalan adalah suatu proses dalam anda nak mencapai kejayaan. Kegagalan juga menambah warna, perisa dan perasa dalam resipi kejayaan anda. Well, tak seronoklah kalau mudah je mendapat kejayaan dan kemenangan, kalau tak da kesusahan dan kegagagalan. Betul tak?
Takat ukur kegagalan, sekali lagi jangan diukur dengan akal fikiran manusia dan pancaindera yang sangat terbatas. Boleh jadi secara lahirnya kita gagal, tapi apa yang akan berlaku selepas tu, kita akan berjaya. Lihat sahaja perjanjian Hudaibiyyah, yang dimeterai antara kaum muslimin dengan penduduk Quraisy Makkah. Literally memang nampak kalah. Yelah semua clause dalam perjanjian tu memihak kepada kaum Quraisy. Tapi itukan pandangan manusia. Apa yang mereka tak nampak ialah the future consequences akibat perjanjian tu. Apakah tewas dalam perjanjian tu jugak dikira kegagalan?
Sebab tu. Tanda ukurnya bukan pada manusia. Tapi pada Allah. Thus, bila Allah kata: Telah berjaya mereka yang menyucikan hatinya dan telah gagallah mereka yang mengotorkan hatinya (surah As-Syams).
Siapa yang berjaya dan siapa yang gagal? Anda nampak?
10 tahun bersama al Mathurat

Pada pagi Ahad selepas tazkirah solat subuh di Surau Aspura (Asrama Putera), kami pelajar tingkatan satu dikumpulkan beramai-ramai di bahagian hadapan surau. Jam menunjukkan pukul 6.50 pagi.
Ketua Pelajar ketika itu, Mohd Tazli Azizan, atau lebih mesra dikenali sebagai Abang Tazli, menyuruh kami semua bersedia untuk membacakan al-Mathurat bersama-sama.
"Al Mathurat ni ape eh? Mungkin ini salah satu daripada surah-surah al Quran kot.. pasal ada perkataan 'al' kat depan dia," bisik hati kecilku yang masih lagi kebingung-bingungan ketika itu.
Alangkah malunya aku, apabila melihat teman-teman lain masing-masing memegang buku nota biru muda bersaiz poket. Rupanya hanya aku seorang yang salah ambil naskhah al Quran. Memandangkan tiada lagi buku mathurat di rak surau, maka aku berkongsi sahaja dengan seorang itu. Namun pagi itu, aku lebih banyak mumble (bak kata Mr Jeyarahman Intec) daripada membaca dengan jelas kerana inilah kali pertama aku membacanya.
Pengalaman pada pagi itu memberi aku semangat untuk lebih kerap membaca al mathurat supaya tidak lagi ketinggalan oleh teman-teman yang lain.
Mei 1998
Sudah sebulan lebih aku membaca al Mathurat setiap pagi Ahad (kerana hanya pada pagi ini akan ada tazkirah subuh, dan sudah kebiasaan setiap kali selepas tazkirah mathurat akan dilantunkan beramai-ramai oleh para jemaah). Berkat banyak berlatih, kini aku dapat membacanya dengan lebih lancar dan tanpa gagap-gagap lagi. Namun aku masih tertanya-tanya siapakah dia gerangan "Imam Hasan Al Banna" ini.
Memandangkan ayahku banyak membeli buku-buku kisah hikmah para wali dan ulama, aku sangat familiar dengan nama-nama ulama seperti Hasan Al Basri, Ibrahim Adham, Rabiatul Adawiyah (sekadar menyebut beberapa nama). Aku kira, mungkin Hasan Al Banna ini sezaman dengan Hasan Al Basri kerana nama mereka pun lebih kurang.
Seorang naqib tingkatan empat yang kebetulan duduk disebelahku kemudian menjelaskan kepadaku dengan lebih detail tentang Hasan Al Banna ini.
"Dia ni dulu tinggal di Mesir. Pada tahun 50-an dia mati syahid ditembak oleh pemerintah Mesir ketika sedang membuka pintu keretanya. Kalau kamu membawa al Mathurat di Mesir, kamu akan dihukum penjara!!" kata abang itu dengan nada tegas dan bersemangat.
Wah! Semenjak hari itu, aku semakin bertambah bersemangat untuk membaca al Mathurat dengan lebih bersungguh-sungguh.
1999
Kini aku sudah bergelar pelajar tingkatan dua di sekolah berasrama penuh ini. Tiada lagi undang-undang asrama yang mewajibkan aku turun ke surau pada pagi ahad, maka al Mathurat pun makin jauh dari bibirku yang mula kering oleh basahnya zikir ini.
Kini aku sudah senior, maka aku seboleh-bolehnya ingin membezakan diriku dari apa yang dilakukan oleh junior, kalau junior beratur masa makan, aku potong; junior solat awal, aku lewat; junior tuck in, aku tuck out; junior pegi prep, aku ponteng; junior study, aku tidur; dan banyak lagi perkara-perkara bangang yang aku lakukan yang tidak terfikir olehku ketika menjadi junior dahulu, walhal jarak waktu antara keduanya tidak sampai 12 bulan.
Namun pada satu petang ketika aku ponteng prep, hatiku berasa kosong sekali. Walaupun hujan di luar tingkap mencurah-curah membasahkan setiap inci tanah di sekolah, aku berasa sungguh kontang di dalam kalbu ini. Secara spontan kakiku membawa badan yang malas ini di tempat yang suatu ketika dahulu memberi ketenangan kepadaku, surau.
Di surau, aku mengambil senaskah al Mathurat yang seolah-olah memanggil-manggil aku untuk dibaca. Aku mula membacanya, dan ketika aku mula melantunkan doa rabithah, secara tidak aku sedari manik-manik kaca mula pecah di hujung mataku. Dan pada saat itu aku berazam untuk sama sekali tidak meninggalkan al mathurat pada masa yang akan datang.
2000
Disebabkan masalah kesihatan dan keputusan peperiksaan yang tidak memuaskan di SBP (aku jatuh daripada top 5 kepada nombor 25), ibu bapaku mengambil keputusan untuk aku belajar di sekolah berhampiran dengan rumah sahaja untuk menghadapi PMR. Di rumah aku menjadi kaki study dan juga kaki bola. Sekali lagi al mathurat kutinggalkan. Ayat-ayat dan doa-doa yang dahulu berumah di hati dan bibir seolah-olah turut sama berpindah keluar daripada diriku pada saat aku berpindah sekolah dahulu.
2001-2002
Aku kini belajar di sebuah sekolah asrama di kaki Bukit Larut. Ya benar, nampaknya al mathurat memang gemar bermastautin di surau-surau sekolah agama. Sekali lagi aku memulakan kisah baru dengan al Mathurat. Kini setiap pagi dan petang aku membacanya tanpa jemu, tetapi dengan niat yang agak terpesong, "Aku mahu straight A's". Walaupun al mathurat kini sudah menjadi halwa lidah dan telingaku, namun kemanisannya kini sudah tiada.
2003 - kini - (selamanya? insyaAllah)
Wamakaru wamakarallah, wallahukhairul ma kirin. Benarlah percaturan Allah itu lebih baik daripada segala apa perancangan kita. Aku ditempatkan di Sunway College (Darul Maksiat). Suasana di sini yang sungguh berbeza dengan atmosfera bersih di kampung menyebabkan iman aku benar-benar tercabar. Dengan pelajar yang pelbagai bangsa datang dari Hong Kong, Jepun, China, Australia, Yemen, Arab Saudi, Sri Lanka, India, Pakistan (sekadar menyebut beberapa negara) berada di sini seolah-olah sebelah kaki sudah pun berpijak di luar negara.
Hatiku penasaran setiap kali melihat maksiat bergayut-gayut di hadapan mata. Kini aku benar-benar desperate untuk mencari cahaya agar diriku selamat. Alhamdulillah, dalam kegelapan zulumat inilah aku berjumpa dengar Nur. Syukur pada Allah, dalam suram kelam hitam ini, masih ada lagi hati-hati yang ikhlas dan bertazakka (suci dan menyucikan) diri kepada Allah.
Aku berjumpa dengan cinta sejati, cinta kepada Allah yang dilemparkan pada hati-hati pemuda yang ikhlas dan optimis dengan kegemilangan Islam. Maka setiap hari, kami melantunkan zikir-zikir dan doa dalam al Mathurat untuk menguatkan azam kami, menyucikan qalbu kami, dan mengikat hati-hati kami untuk sentiasa menyayangi lillahi taala.
Kami juga belajar bahawa kami adalah sebahagian daripada rantai-rantai islam yang tidak akan putus semenjak perutusan Nabi Adam a.s sampailah ke hari ini. Lontaran doa' rabithah ini dilafazkan oleh hati-hati yang cinta kepada saudaranya dari fajarnya Yokohama hinggalah senjanya California. Dan Allah akan sentiasa merahmati, mencintai golongan pemuda yang cinta kepada-Nya dan saling berkasih sayang sesama muslim dan izzah kepada yang musuh-Nya.
Semoga Allah mengikat hatiku agar aku menjadi salah satu daripada rantai-rantai yang menjadi penyambung dalam rantaian dakwah ini.
Amin.
Tuesday, January 15, 2008
Berita semalam..
Dipetik dari Harian Metro,
*****
...Sementara itu, di Rawang lima kereta Perodua Myvi yang baru 15 minit dibawa keluar dari kilangnya rosak teruk apabila treler yang membawanya terbabas sebelum terbalik.
Difahamkan dalam kejadian jam 3.15 petang itu, semua kereta baru keluar dari kilang Perodua di Sungai Choh, Rawang sebelum terbabit dengan kemalangan di Lebuhraya Utara-Selatan (Plus) berhampiran Plaza Tol Rawang.
Sumber polis berkata, kemalangan itu dipercayai berpunca akibat masalah pada sistem mekanikal stereng lori treler dua tingkat itu yang tidak berfungsi. Akibatnya lori terbabit yang membawa kereta MyVi baru ke arah ibu kota, hilang kawalan sebelum terbabas ke kiri lebuh raya lalu terbalik di longkang berhampiran.
“Akibat kemalangan itu, dua kereta MyVi yang yang letakkan di bahagian bawah dan tiga lagi di tingkat atas belakang treler turut terhempas ke bahu lebuh raya menyebabkan kerosakan pada bahagian sisi kiri.
“Bagaimanapun semua kenderaan terbabit tidak tercampak ke atas lebuh raya berikutan ia diikat pada badan treler. Pemandu dan kelindan treler bagaimanapun tidak mengalami sebarang kecederaan,” katanya.
Difahamkan semua kereta baru itu dalam perjalanan ke Klang untuk dihantar ke sebuah syarikat kereta sebelum diserahkan kepada pelanggan yang membuat tempahan.
*****
Persoalan: Berapakah kereta yang menyebabkan kemalangan dan berapa pula yang malang?
Pengajaran1: "Kalau murabbi tergolek, habis semua mutarabbi ikut tergolek, malang betul mereka tu" kata Raja Ketam sambil mengajar rakyatnya berjalan lurus.
Pengajaran2: "Kami pun sama malang, dapat murabbi jalan senget," bisik hati seekor anak ketam.
[+]Addendum (Disebabkan khuatir dengan kemungkinan bertambahnya bilangan pembaca yang tidak faham, maka iA dengan izin Tuhan saya akan menambah sedikit komen tentang peristiwa lori terbalik di atas.)
Baik, sekarang mari kita analisa peristiwa di atas.
Peristiwa kemalangan di Lebuhraya PLUS Rawang ini melibatkan:
1 lori kontena (bersama 1 pemandu)
5 pro2 Myvi (tiada pemandu)
Punca kemalangan:
Masalah sistem mekanikal stereng lori.
Kerugian:
1 lori kontena dan 5 pro2 Myvi.
0 kerugian jiwa dilaporkan (alhamdulillah).
Berikut ialah perbualan antara dua orang pakcik selepas membaca berita ini..
En. A: Ish ish.. tengok berita ni.. ruginyer.. abis kereta baru-baru semua rosak..
En. B: Betul tu..nasib baik pemandu tu selamat.. mungkin ni berkat dia ikhlas dalam bekerja.
En. A: Itulah.. semua ni gara-gara stereng yang rosak.. kalau dah stereng rosak, ikhlas macam mana pun masih lagi susah nak ikut jalan yang lurus.. akhirnya masuk ke longkang.. kalau masuk ke longkang sorang-sorang takpe jugak.. ini habis semua kereta-kereta baru yang suci murni tu diajak ke longkang sekali..
En. B: Apa boleh buat.. dah takdir Tuhan.. (sambil menggeleng-geleng kepala)
En. A: Hmm.. (geleng kepala jugak). Eh tengok ni, Datuk Siti dah bertudung.. bla bla bla..
(Kerana perbualan dah berubah topik, maka isi-isi seterusnya tidak lagi relevan dengan diskusi di sini).
Okeh, sekarang mari kita analisa dengan kaca mata dakwah.
Kenapa peristiwa ni dipanggil kemalangan?
Kerana lori terjatuh ke dalam longkang. Adakah pemandu lori dengan sengaja membawa lorinya jatuh ke dalam longkang? Tidak, tidak mungkin seseorang yang berakal sihat dan lulus ujian memandu (yang susah jugak ar) akan intentionally membawa lorinya beserta amanahnya masuk ke dalam longkang. Ini disebabkan kedegilan sang pemandu untuk terus menggunakan stereng yang rosak, tidak memeriksa keadaan stereng dengan teliti sebelum memulakan perjalanan. Walaupun beliau seorang yang ikhlas, amanah dan bersemangat dalam bekerja, namun disebabkan sikap tidak mahu mengislahkan lorinya, kemalangan pun berlaku. Akhirnya, jiwa para kereta yang bersih, kuat, dan hati-hati yang kosong tiada berpemandu telah pun disia-siakan masuk ke dalam jurang longkang bersama lori tua tadi. Alangkah bahagianya jiwa kereta-kereta muda tadi dapat siap sampai ke destinasi, diisi dengan pemandu yang hatinya ikhlas dan berfikrah jelas, enjin-enjin muda tadi mungkin akan dapat meluncur laju masuk ke lorong-lorong di kota, denai-denai di kampung, membawa rahmat ke mana saja tayarnya bergolek. Namun hanya disebabkan kedegilan dan ego seorang pemandu tua, itu semua hanya tinggal mimpi-mimpi indah dalam hati-hati pemuda yang pasrah (pasal kereta yang diorder dah rosak).
Maka disebabkan kemalangan yang merugikan ini, terpaksalah kita menunggu hadirnya generasi kereta dengan roh baru dalam ummah kereta ini, yang Dicintai Pencipta dan mereka pun mencintai-Nya, berlemah lembut kepada saudara dan izzah kepada musuh.
Semoga Allah memberikan kita jalan-jalan ke arah jihad yang muntijah.
Wallahua'lam.
Friday, August 17, 2007
Hati..

Assalamualaikum wrh wbt
Berikut merupakan beberapa ayat Al-Quran dan Hadith yang berkaitan dengan hati. Harap boleh mendapat manfaat darinya.
*********
"Orang-orang yang, apabila Allah diingatkan (disebut), hati mereka gementar, dan yang bersabar atas apa sahaja yang menimpa mereka, dan yang melakukan solat, dan menafkahkan daripada apa yang Kami merezekikan mereka."
(Surah Al-Hajj:35)
"Sesungguhnya orang yang beriman ituhanyalah mereka yang apabila disebut nama Allah gementarlah hati mereka."
(Surah Al-Anfal, ayat 2).
"Iaitu orang yang beriman dan tenteram hati mereka dengan mengingati Allah. Ketahuilah! Dengan mengingati Allah itu tenang tenteramlah hati manusia."
(Surah al-Ra'd, ayat 28)
Demikianlah, dan sesiapa memuliakan tanda-tanda Allah, itu adalah daripada ketakwaan hati.
(Surah al-Hajj:32)
"Kemudian sesudah itu, hati kamu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi. Padahal di antara batu-batu itu ada yang terpancar dan mengalir sungai daripadanya, dan ada pula di antaranya yang pecah-pecah terbelah lalu keluar mata air daripadanya. Dan ada juga di antaranya yang jatuh kebawah kerana takut kepada Allah, sedang Allah tidak sekali-kali lalai daripada apa yang kamu kerjakan."
(Surah Al-Baqarah:74)
"Apa, tidakkah mereka mengembara di bumi, supaya mereka ada hati untuk memahami dengannya, atau telinga untuk mendengar dengannya? Ia bukanlah mata yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang di dalam dada."
(Surah Al-Hajj:46)
"Supaya Dia membuatkan, apa yang syaitan melemparkan, satu cubaan bagi orang-orang yang di dalam hati mereka ada penyakit, dan orang-orang yang hati mereka keras; dan sesungguhnya orang-orang yang zalim adalah dalam perpecahan yang jauh."
(Surah Al-Hajj:57)
dan hadith
"Ketahuilah, bahawa di dalam diri anak Adam itu ada seketul daging, yang bila ianya baik maka baik seseorang itu, dan apabila buruk, buruklah amalan seseorang itu, ketahuilah, ia adalah hati" (Riwayat Muslim)
*********
Tuesday, August 14, 2007
Surat Terbuka Untuk Ikhwan Fillah
Assalamualaikum wrh wbt
Rasanya sudah setengah tahun saya meninggalkan alam penulisan di blog ini. Kalau hendak diberikan alasan, bertimba-timba alasan boleh dicari, namun sikap mencari alasan itu ciri-ciri bagi mereka yang telah goyah imannya.
Nah, kali ini saya sajikan satu cerpen yang bagi saya amat menyentuh hati. Atau mungkin dalam frasa yang lebih tepat, 'terjatuh di atas batang hidung'. Hampir-hampir terpesek hidung ini dibuatnya. Jarang sekali saya mengcopy+paste artikel di blog ini, namun menurut hemah saya, cerpen ini sangat relevan dan penting untuk semua pembaca yang rata-ratanya masih di alam bujang.
Bacalah sebelum terlambat. :)
wallahua'lam

Surat Terbuka Buat Ikhwan Fillah
bismillahirrahmanirrahim...
Malam telah larut terbentang. Sunyi. Dan aku masih berfikir tentang dirimu, akhi. Jangan salah sangka ataupun menaruh prasangka. Semua semata-mata hanya untuk muhasabah terutama bagi diriku, makhluk yang Rasulullah SAW sinyalirkan sebagai pembawa fitnah terbesar.
Suratmu sudah kubaca dan disimpan. Surat yang membuatku gementar. Tentunya kau sudah tahu apa yang membuatku nyaris tidak boleh tidur kebelakangan ini.
"Ukhti, saya sering memperhatikan anti. Kalau sekiranya tidak dianggap lancang, saya berniat berta'aruf dengan anti."
Jujur kukatakan bahawa itu bukan perkataan pertama yang dilontarkan ikhwan kepadaku. Kau orang yang kesekian. Tetap saja yang 'kesekian' itu yang membuatku diamuk perasaan tidak menentu. Astaghfirullahaladz im. Bukan, bukan perasaan melambung kerana merasakan diriku begitu mendapat perhatian. Tetapi kerana sikapmu itu mencampak ke arah jurang kepedihan dan kehinaan. 'Afwan kalau yang terfikir pertama kali di benak bukannya sikap memeriksa, tapi malah sebuah tuduhan: ke mana ghaddhul bashar-mu?
Akhifillah,
Alhamdulillah Allah mengurniakan dzahir yang jaamilah. Dulu, di masa jahiliyah, kurniaan itu sentiasa membawa fitnah. Setelah hijrah, kufikir semua hal itu tidak akan berulang lagi. Dugaanku ternyata salah. Mengapa fitnah ini jesteru menimpa orang-orang yang kuhormati sebagai pengemban risalah da'wah? Siapakah yang salah di antara kita?
####
"Adakah saya kurang menjaga hijab, ukh?" tanyaku kepada Aida, teman sebilikku yang sedang mengamati diriku. Lama. Kemudian, dia menggeleng.
"Atau baju saya? Sikap saya?"
"Tidak, tidak," sergahnya menenangkanku yang mulai berurai air mata.
"Memang ada perubahan sikap di kampus ini."
"Termasuk diri saya?"
"Jangan menyalahkan diri sendiri meskipun itu bagus, sentiasa merasa kurang iman. Tapi tidak dalam hal ini. Saya cukup lama mengenali anti dan di antara kita telah terjalin komitmen untuk saling memberi tausiyah jika ada yang lemah iman atau salah. Ingat?"
Aku mengangguk. Aida menghela nafas panjang.
"Saya rasa ikhwan itu perlu diberi tausiyah. Hal ini bukan perkara baru kan ? Maksud saya dalam meng-cam akhwat di kampus." Sepi mengembang di antara kami. Sibuk dengan fikiran masing-masing… .
"Apa yang diungkapkan dalam surat itu?"
"Ia ingin berta'aruf. Katanya dia sering melihat saya memakai jilbab putih. Anti tahu bila dia bertekad untuk menulis surat ini? Ketika saya sedang menjemur pakaian di depan rumah! Masya Allah…. dia melihat sedetail itu."
"Ya.. di samping itu tempoh masa anti keluar juga tinggi."
"Ukhti…," sanggahku, "Anti percaya kan kalau saya keluar rumah pasti untuk tujuan syar'ie?"
"InsyaAllah saya percaya. Tapi bagi anggapan orang luar, itu masalah yang lain."
Aku hanya mampu terdiam. Masalah ini sentiasa hadir tanpa ada suatu penyelesaian. Jauh dalam hati selalu tercetus keinginan, keinginan yang hadir semenjak aku hijrah bahawa jika suatu saat ada orang yang memintaku untuk mendampingi hidupnya, maka hal itu hanya dia lakukan untuk mencari keridhaan Rabb-nya dan dien-ku sebagai tolok ukur, bukan wajahku. Kini aku mulai risau mungkinkah harapanku akan tercapai?
####
Akhifillah,
Maaf kalau saya menimbulkan fitnah dalam hidupmu. Namun semua bukan keinginanku untuk beroleh wajah seperti ini. Seharusnya di antara kita ada tabir yang akan membersihkan hati dari penyakitnya. Telah kucuba dengan segenap kemampuan untuk menghindarkan mata dari bahaya maksiat. Alhamdulillah hingga kini belum belum hadir sosok putera impian yang hadir dalam angan-angan. Semua kuserahkan kepada Allah ta'ala semata.
Akhi,
Tentunya antum pernah mendengar hadits yang tersohor ini. Bahawa wanita dinikahi kerana empat perkara: kecantikannya, hartanya, keturunannya, atau diennya. Maka pilihlah yang terakhir kerana ia akan membawa lelaki kepada kebahagiaan yang hakiki.
Kalaulah ada yang mendapat keempat-empatnya, ibarat ia mendapat syurga dunia. Sekarang, apakah yang antum inginkan? Wanita shalihah pembawa kedamaian atau yang cantik tapi membawa kesialan? Maaf kalau di sini saya terpaksa berburuk sangka bahawa antum menilai saya cuma setakat fizik belaka. Bila masanya antum tahu bahawa dien saya memenuhi kriteria yang bagus? Apakah dengan melihat frekuensi kesibukan saya? Tempoh di luar rumah yang tinggi?
Tidak. Antum tidak akan pernah tahu bila masanya saya berbuat ikhlas lillahi ta'ala dan bila masanya saya berbuat kerana riya'. Atau adakah antum ingin mendapatkan isteri wanita cantik yang memiliki segudang prestasi tetapi akhlaknya masih menjadi persoalan? Saya yakin sekiranya antum diberikan pertanyaan demikian, nescaya tekad antum akan berubah.
Akhifillah,
Tanyakan pada setiap akhawat kalau antum mampu. Yang tercantik sekalipun, maukah ia diperisterikan seseorang kerana dzahirnya belaka? Jawapannya, insya Allah tidak. Tahukah antum bahawa kecantikan zahir itu adalah mutlak pemberian Allah; Insya Allah antum tahu. Ia satu anugerah yang mutlak yang tidak boleh ditawar-tawar jika diberikan kepada seseorang atau dihindarkan dari seseorang. Jadi, manusia tidak mendapatkannya melalui pengorbanan. Lain halnya dengan kecantikan bathiniyyah. Ia melewati proses yang panjang. Berliku. Melalui pengorbanan dan segala macam pengalaman pahit. Ia adalah intisari dari manisnya kata, sikap, tindak tanduk dan perbuatan. Apabila seorang lelaki menikah wanita kerana kecantikan batinnya, maka ia telah amat sangat menghargai perjuangan seorang manusia dalam mencapai kemuliaan jati dirinya. Faham?
Akhifillah,
Tubuh ini hanya pinjaman yang terpulang pada-Nya bila-bila masa mengambilnya. Tapi ruh, kecantikannya menjadi milik kita yang abadi. Kerananya, manusia diperintahkan untuk merawat ruhiyahnya bukan hanya jasmaninya yang boleh usang dan koyak sampai waktunya.
Akhifillah,
Kalau antum ingin mencari akhawat yang cantik, antum juga seharusnya menilai pihak yang lain. Mungkin antum tidak memerhatikannya dengan teliti. (Alhamdulillah, tercapai maksudnya untuk keluar rumah tanpa menimbulkan perhatian orang). Pakaiannya sederhana, ia hanya memiliki beberapa helai. Dalam waktu seminggu antum akan menjumpainya dalam jubah-jubah yang tidak banyak koleksinya. Tempoh masanya untuk keluar rumah tidak lama. Ia lebih suka memasak dan mengurus rumah demi membantu kepentingan saudari-saudarinya yang sibuk da'wah di luar. Ia nyaris tidak mempunyai keistimewaan apa-apa kecuali kalau antum sudah melihat shalatnya. Ia begitu khusyu'. Malam-malamnya dihiasi tahajjud dengan uraian air mata. Dibaca Qur'an dengan terisak. Ia begitu tawadhu' dan zuhud. Ah, saya iri akan kedekatan dirinya dengan Allah. Benar, ia mengenal Rabbnya lebih dari saya. Dalam ketenangannya, ia tampak begitu cantik di mata saya. Beruntung ikhwan yang kelak memperisterikannya… (saya tidak perlu menyebut namanya.)
####
Malam semakin beranjak. Kantuk yang menghantar ke alam tidur tidak menyerang saat surat panjang ini belum usai. Tapi, sudah menjadi kebiasaanku tidak boleh tidur tenang bila saudaraku tercinta tidak hadir menemani. Aku tergugat apabila merasakan bantal dan guling di samping kanan telah kehilangan pemilik. Rasa penat yang belum terneutral menyebabkan tubuhku terhempas di sofa.
Aida sedang diam dalam kekhusyu'kan. Wajahnya begitu syahdu, tertutup oleh deraian air mata. Entah apa yang terlintas dalam qalbunya. Sudah pasti ia merasakan aku tidak hairan saat menyaksikannya. Tegak dalam rakaatnya atau lama dalam sujudnya.
"Ukhti, tidak solat malam? " tanyanya lembut seusai melirik mata.
"Ya, sekejap," kupandang wajahnya. Ia menatap jauh keluar jendela ruang tamu yang dibiarkan terbuka. "Dzikrul maut lagi?"
"Khusnudzan anti terlalu tinggi."
Aku tersenyum. Sikap tawadhu'mu, Aida, menyebabkan bertambah rasa rendah diriku. Angin malam berhembus dingin. Aku belum mahu beranjak dari tempat duduk. Aida pun nampaknya tidak meneruskan shalat. Ia kelihatan seperti termenung menekuri kegelapan malam yang kelam.
"Saya malu kepada Allah," ujarnya lirih.
"Saya malu meminta sesuatu yang sebenarnya tidak patut tapi rasanya keinginan itu begitu mendesak dada. Siapa lagi tempat kita meminta kalau bukan diri-Nya?"
"Apa keinginan anti, Aida?"
Aida menghela nafas panjang.
"Saya membaca buku Syeikh Abdullah Azzam pagi tadi," lanjutnya seolah tidak menghiraukan. "Entahlah, tapi setiap kali membaca hasil karyanya, selalu hadir simpati tersendiri. Hal yang sama saya rasakan tiap kali mendengar nama Hasan al-Banna, Sayyid Quthb atau mujahid lain saat nama mereka disebut. Ah, wanita macam mana yang dipilihkan Allah untuk mereka? Tiap kali nama Imaad Aql disebut, saya bertanya dalam hati: Wanita macam mana yang telah Allah pilih untuk melahirkannya?"
Aku tertunduk dalam-dalam.
"Anti tahu," sambungnya lagi, "Saya ingin sekiranya boleh mendampingin orang-orang sekaliber mereka. Seorang yang hidupnya semata-mata untuk Allah. Mereka tak tergoda rayuan harta dan benda apalagi wanita. Saya ingin sekiranya boleh menjadi seorang ibu bagi mujahid-mujahid semacam Immad Aql…"
Air mataku menitis perlahan. Itu adalah impianku juga, impian yang kini mulai kuragui kenyataannya. Aida tak tahu berapa jumlah ikhwan yang telah menaruh hati padaku. Dan rasanya hal iti tak berguna diketahui. Dulu, ada sebongkah harapan kalau kelak lelaki yang mendampingiku adalah seorang mujahid yang hidupnya ikhlas kerana Allah. Aku tak menyalahkan mereka yang menginginkan isteri yang cantik. Tidak. Hanya setiap kali bercermin, ku tatap wajah di sana dengan perasaan duka. Setakat inikah nilaiku di mata mereka? Tidakkah mereka ingin menilaiku dari sudut kebagusan dien-ku?
"Ukhti, masih tersisakah ikhwah seperti yang kita impikan bersama?" desisku.
Aida meramas tanganku. "Saya tidak tahu. Meskipun saya sentiasa berharap demikian. Bukankah wanita baik untuk lelaki baik dan yang buruk untuk yang buruk juga?"
"Anti tak tahu," air mata mengalir tiba-tiba. "Anti tak tahu apa-apa tentang mereka."
"Mereka?"
"Ya, mereka," ujarku dengan kemarahan terpendam. "Orang-orang yang saya kagumi selama ini banyak yang jatuh berguguran. Mereka menyatakan ingin ta'aruf. Anti tak tahu betapa hancur hati saya menyaksikan ikhwan yang qowiy seperti mereka takluk di bawah fitnah wanita."
"Ukhti!"
"Sungguh, saya terfikir bahawa mereka yang aktif da'wah di kampus adalah mereka yang benar-benar mencintai Allah dan Rsulnya semata. Ternyata mereka mempunyai sekelumit niat lain."
"Ukhti, jangan su'udzan dulu. Setiap manusia punya kelemahan dan saat-saat penurunan iman. Begitu juga mereka yang menyatakan perasaan kepada anti. Siapa yang tidak ingin punya isteri cantik dan shalihah?"
"Tapi, kita tahukan bagaimana prosedurnya?"
"Ya, memang…"
"Saya merasa tidak dihargai. Saya berasa seolah-olah dilecehkan. Kalau ada pelecehan seksual, maka itu wajar kerana wanita tidak menjaga diri. Tapi saya…. Samakah saya seperti mereka?"
"Anti berprasangka terlalu jauh."
"Tidak," aku menggelengkan kepala. "Tiap kali saya keluar rumah, ada sepasang mata yang mengawasi dan siap menilai saya mulai dari hujung rambut -maksud saya hujung jilbab- hingga hujung sepatu. Apakah dia fikir saya boleh dinilai melalui nilaian fizik belaka.."
"Kita berharap agar ia bukan jenis ikhwan seperti yang kita maksudkan."
"Ia orang yang aktif berda'wah di kampus ini, ukh."
Aida memejamkan mata. Bisa kulihat ujung matanya basah. Kurebahkan kepala ke bahunya. Ada suara lirih yang terucap,
"Kasihan risalah Islam. Ia diemban oleh orang-orang seperti kita. Sedang kita tahu betapa berat perjuangan pendahulu kita dalam menegakkannya. Kita disibukkan oleh hal-hal sampingan yang sebenarnya telah diatur Allah dalam kitab-Nya. Kita tidak menyibukkan diri dalam mencari hidayah. Kasihan bocah-bocah Palestin itu. Kasihan saudara-saudara kita di Bosnia . Adakah kita boleh menolong mereka kalau kualiti diri masih seperti ini? Bahkan cinta yang seharusnya milik Allah masih berpecah-pecah. Maka, kekuatan apa yang kita ada?"
Kami saling bertatapan kemudian. Melangkau seribu makna yang tidak mampu dikatakan oleh kosa kata. Ada janji. Ada mimpi. Aku mempunyai impian yang sama seperti Aida: mendukung Islam di jalan kami. Aku ingin mempunyai anak-anak seperti Asma punyai. Anak-anak seperti Immad Aql. Aku tahu kualiti diri masih sangat jauh dari sempurna. Tapi seperti kata Aida; Meskipun aku lebih malu lagi untuk meminta ini kepada-Nya. Aku ingin menjadi pendamping seorang mujahid ulung seperti Izzuddin al-Qassam.
####
Akhifillah,
Mungkin antum tertawa membaca surat ini. Ah akhawat, berapa nilaimu sehingga mengimpikan mendapat mujahid seperti mereka? Boleh jadi tuntutanku terlalu besar. Tapi tidakkah antum ingin mendapat jodoh yang setimpal? Afwan kalau surat antum tidak saya layani. Saya tidak ingin masalah hati ini berlarutan. Satu saja yang saya minta agar kita saling menjaga sebagai saudara. Menjaga saudaranya agar tetap di jalan yang diridhai-Nya. Tahukah antum bahawa tindakan antum telah menyebabkan saya tidak lagi berada di jalan-Nya? Ada riya', ada su'udzhan, ada takabur, ada kemarahan, ada kebencian, itukah jalan yang antum bukakan untuk saya, jalan neraka? –'Afwan.
Akhifillah,
Surat ini seolah menempatkan antum sebagai tertuduh. Saya sama sekali tidak bermaksud demikian. Kalau antum mahu cara seperti itu, silakan. Afwan, tapi bukan saya orangnya. Jangan antum kira kecantikan lahir telah menjadikan saya merasa memiliki segalanya. Jesteru, kini saya merasa iri pada saudari saya. Ia begitu sederhana. Tapi akhlaknya bak lantera yang menerangi langkah-langkahnya. Ia jauh dari fitnah. Sementara itu, apa yang saya punyai sangat jauh nilainya. Saya bimbang apabila suatu saat ia berhasil mendapatkan Abdullah Azzam impiannya, sedangkan saya tidak.
Akhifillah,
'Afwan kalau saya menimbulkan fitnah bagi antum. Insya Allah saya akan lebih memperbaiki diri. Mungkin semua ini sebagai peringatan Allah bahawa masih banyak amalan saya yang riya' maupun tidak ikhlas. Wallahua'lam. Simpan saja cinta antum untuk isteri yang telah dipilihkan Allah. Penuhilah impian ratusan akhawat, ribuan ummat yang mendambakan Abdullah Azzam dan Izzuddin al-Qassam yang lain. Penuhilah harapan Islam yang ingin generasi tangguh seperti Imaad Aql. Insya Allah antum akan mendapat pasangan yang bakal membawa hingga ke pintu jannah.
Akhifillah,
Malam bertambah-dan bertambah larut. Mari kita shalat malam dan memandikan wajah serta mata kita dengan air mata. Mari kita sucikan hati dengan taubat nasuha. Pesan saya, siapkan diri antum menjadi mujahid. Insya Allah, akan ada ratusan Asma dan Aisyah yang akan menyambut uluran tangan antum untuk berjihad bersama-sama.
Yang terakhir, akhi, saudara seaqidahku, saya persembahkan bingkisan indah sebuah syair karya pujangga besar Muhammad Iqbal. Semoga menjadi renungan kita bersama untuk lebih meningkatkan ketaqwaan dan keimanan.
IDEALNYA SEORANG PEMUDA
Ia peribadi yang muslim,
Berhati emas,
Berpotensi prima,
Yang di kala damai
Anggun petaka kijang dari padang perburuan
Yang di kala perang
Perkasa bak harimau kumbang
Ia perpaduan manis hempedu
Satu kali dengan kawan
Lain kali dengan lawan
Yang lembut dalam berbahasa
Yang teguh membawa suluh
Angannya sederhana
Citanya mulia
Tinggi keutamaan dalam hati-hati
Tinggi budi, rendah hati
Ia lah sutera halus di tengah sahabat tulus
Ia lah baja
Ditentangnya musuh durhaka
Ia ibarat gerimis atau embun tiris
Yang memekarkan bunga-bunga
Yang melambaikan tangkai-tangkai
Ia juga puting beliung
Yang melemparkan ombak menggunung
Yang menggoncangkan laut ke relung-relung
Ia lah gemercik air ditaman sari, asri
Ia juga penumbang segala belantara
Segala sahara
Ia lah pertautan agung iman Abu Bakar
Perkasa Ali
Papa Abu Dzar
Teguhnya Salman
Mendirinya di tengah massa yang bergoyang
Ibarat lentera ulama di tengah gulita sahara
Ia pilih syahid fisabilillah atas segala kerusi dan upeti
Ia manuju bintang
Menggapai malaikat
Ia tentang tindak kuffar
Pola aniaya di mana saja
Maka nilainya pun membumbung tinggi
Harganya semakin tak terperi
Maka siapakah yang akan sanggup membelinya
Kecuali Rabb-nya?
Monday, November 13, 2006
Robot Makan Elektrik
Afwan kerana lama tidak mengupdate blog. Terima kasih kepada incik anonymous kerana menyuruh saya update, kalo tak, sure tak update punya aaah.. eheh.
Kali ni saya nak citer pasal satu citer yg kawan saya citer kt saya pasal robot.

Pada satu ketika di zaman robot sudah banyak di dunia, terdapat seorang engineer robot yg ingin mencipta satu robot yg paling power skali di dunia. Dia membayangkan akan membuat satu robot yg boleh menandingi kehebatan robot Asimo yg bercap HONDA yang mampu menari-nari mengikut rentak muzik nashit jiwang.
Maka dibuatlah robot itu seteliti mungkin, daripada sekecil-kecil sel hinggalah sebesar-besar organ-organ robot itu dibuat sangatlah teliti. setelah usai bahagian pembuatan robot itu, kini tibalah masa untuk robot itu diprogramkan. inilah antara programming yg dibuat ke dalam cpu robot itu.
Nama: MAN-u-SIA LayCar
Keje: 1. cucuk plag 3 pin 13 ampere di suis2 utk Makan Letrik.
2. if 1. is accomplished : pusing-pusing bazirkan letrik utk cari suis utk cucuk plag
3. ulang 1 dan 2 sampai mampos.
maka MAN-u-SIA LayCar itu pun menjalankan kerja yg diprogramkan dalam otaknya itu.
cucuk, jalan, cucuk, jalan, cucuk, jalan. Cucuk utk charge bateri dan jalan utk cari tempat lain utk charge balik.Begitulah kehidupan robot itu utk 64 tahun, 8 bulan, 16 hari, 13 jam, 35 minit, 43 saat.
Pada saat yang berikutnya, wayar-wayar dalam badan robot MAN-u-Sia LayCar pun rosak akibat penggunaan yang beterusan tanpa menservisnya selalu. Maka tamatlah riwayat MAN-u-Sia LayCar tanpa menyumbang apa pun untuk kemaslahatan sejagat. Dia juga gagal untuk mengalahkan Asimo yang mampu menari-nari mengikut rentak muzik nashit jiwang.
apakah ibrah (pengajaran) dari citer ni?
“ Maka adakah kamu menyangka bahawa sesungguhnya Kami menciptakam kamu main-main(tanpa tujuan) dan bahawa kamu tidak akan dikembalikan kepada kami (Almukminun:115)“
Jadi, adakah kita mahu menjadi seperti robot di atas, yg hidupnya hanya bermatlamat "Mengenyangkan perut agar boleh dapat tenaga, dari tenaga boleh pegi kerja, dah kerja dapat gaji, dapat gaji beli beras kenyangkan perut agar dapat tenaga utk pergi kerja."
Jika hidup ini satu kitaran, maka keluarlah anda dari kitaran bodoh ini, agar tidak menjadi orang yang rugi di hadapan Sang Pencipta kerana sudah pastilah tujuan kita diciptakan bukanlah untuk mengenyangkan perut, dan degn perut yg kenyang utk mencari kerja, kerja sampai perut lapar, dan dapat duit kerja tadi kenyangkan balik perut.
Adakah tugas wakil di muka bumi (2:30) hanya sekadar berkisarkan aktiviti-aktiviti di dalam perut? Fikir-fikirkan lah..
wallahua'lam
Friday, September 01, 2006
Kapal terbang
Entry kali ini ditujukan khas buat sahabat-sahabat yg sedang bersiap-siap untuk pulang semula ke UK dan Ireland setelah lama bercuti di tanah air Melosiaku terchenta.
Setiap kali sebelum kapal terbang berlepas, nescaya anda akan melihat pramugara dan pramugari sibuk bersenam robik di tengah2 aisle, utk memberi penerangan ttg arahan-arahan keselamatan ketika di dalam kapal yg beterbangan itu. Antara arahan yang paling popular ialah:
"If emergency oxygen masks deploy, put your mask on first, before putting it on your children"

Agak kejam bunyinya bukan? Tetapi itulah opsyen yang paling selamat untuk kemaslahatan kedua-dua belah pihak.
Ini kerana:
1) Jika si ibu/bapa/penjaga sudah berjaya mengenakan topeng oksigen kepada diri sendiri, ini menunjukkan dia sudah mempunyai skill yang mantap dalam cara-cara mengenakan topeng oksigen.
bayangkan, kalo dia sendiri pun tak reti pakai mask, tak pasal-pasal kang dia salah letak mask kt anak dia. org suro letak kt muka, dia taruk siku, tak ke naya. (lawak hambar)
2) Jika si ibu/bapa/penjaga sudah berjaya memakai topeng oksigen, beliau akan mendapat bekalan oksigen yg mencukupi utk meresap dalam haemoglobin dalam sel darah merahnya, lantas mengelakkan hypoxia. Ini akan memberi peluang kepadanya utk menyelamatkan si kecil tersayang tanpa menjejaskan keselamatan diri sendiri.
bayangkan, kalo diri sendiri pun takde oksigen, camne nak kasik oksigen kt org lain plak kan?
Begitulah juga halnya dalam bidang dakwah.
1a) Sebelum kita menyelamatkan org lain, saudara kita, rakan-rakan kita, kita hendaklah pada masa yang sama menyelamatkan diri kita. Sentiasa melakukan pengislahan pada diri sendiri. Sentiasa bermuhasabah ttg kesalahan diri. Refleksi diri. Cermin-cerminkan diri.
Bagaimana mungkin, org ingin mengikut jalan dakwah kita, andaikata diri sendiri pun tak terjaga? Bagaimana mungkin, kita nak jual produk sabun Breeze kita, sekiranya baju sendiri pun
berlemoih penuh dengan kotoran?
2a) Jika hendak menyeru org lain, kita hendaklah mempunyai sedikit bekalan. Jika diri sendiri pun tiada bekalan ilmu, iman dan amal, bagaimana kita mahu berkongsi dengan mad'u yang kita hendak bawa? Sesungguhnya jalan dakwah ini tidak tertegak hanya dengan semangat yang berapi-api. Tetapi ia lahir dari ilmu yg benar, membawa kepada iman yg sejahtera, lantas dimanifestasikan melalui amalan-amalan kita.
Tapi, jangan jadi begini...
"Aku rasa aku tak layak la nak nasihat dia.. dia tu dulu skolah agama.. aku ni baru sebulan dua dok blajar.. aku rasa tak cukup ilmu lagi la.."
Mungkin sebilangan daripada kita akan berkata dalam hati, "Takpe la dia tak tegur dulu.. biar dia blaja cukup2 dulu, biar lagi power dari mamat ex-skolah agama tadi, baru la dia tegur. Kan kan?"
Bagaimana kalau begini...
"Aku rasa aku tak layak la nak pasang mask kt anak aku.. aku ni pasang mask ni pun first time.. biarlah aku dah berjaya pasang mask utk kali ke-210, baru aku pasang kt anak aku.. kan kan?"
By the time ko pasang mask utk kali ke seratus, anak kau tu dah mampos dah rasanya.
By the time korang rasa ilmu korang dah cukup, rasa2nya lagi jauh lagi kawan kita tadi dicengkam oleh kegelapan jahiliyah.
By the way, sampai bila kita akan rasa ilmu kita dah cukup? Lepas SPM? Lepas Ijazah? Lepas keje? Lepas hafal al-Quran dan hadith? Lepas hafal buku sifir 4 angka? Lepas sampai bila lagi? Sampai dah nak masuk kubo? nauzubillah.
Sesungguhnya, kerja ini bukan hanya kerja nabi dan rasul. Ini bukan hanya kerja ustaz-ustaz ataupun pegawai-pegawai agama. Ini kerja seluruh ummat.
"Kamulah adalah sebaik-baiknya ummat dilahirkan untuk kepentingan manusia seluruhnya, menyuruh mengerjakan yang benar dan melarang membuat yang salah, serta beriman kepada Allah" (Alimran:110)
wallahua'lam

